Di era digital ini, generasi baru yang disebut digital native tumbuh dengan sangat cepat dan terkena dampaknya. Mereka lahir setelah tahun 1997, saat internet sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Tidak Lupa Ada Dunia Luar Layar
Bayangkan anak-anak digital native yang berusia 20 tahun. Mereka sudah tumbuh dengan menggunakan smartphone dan internet, sehingga mereka merasa tidak bisa hidup tanpa teknologi tersebut. Namun, ada satu hal yang perlu diingat: ada dunia luar layar!
- Setiap hari, mereka berinteraksi dengan orang-orang lain melalui media sosial dan permainan online.
- Mereka sudah terbiasa dengan membeli barang-barang secara online dan menunggu pengiriman di rumah.
Sayangnya, kecenderungan mereka untuk berinteraksi hanya melalui layar komputer atau smartphone dapat menyebabkan keterbatasan kemampuan social empati. Mereka sulit memahami perasaan orang lain yang sedang mengalami kesulitan.
Pengajaran dari Dunia Luar Layar
Misalkan, seorang anak digital native yang berusia 20 tahun ingin menjadi dokter. Dia harus belajar tentang ilmu pengetahuan dasar tentang tubuh manusia, bagaimana mengobati pasien, dan bagaimana bekerja sama dengan tim medis.
- Mereka harus belajar tentang asesmen kesehatan yang dilakukan oleh dokter sebelum berobat.
- Perlu mempelajari cara mengobati suatu kondisi tertentu dan bagaimana menganalisis gejala-gejala.
Mengingat perbedaan antara kehidupan di layar komputer dan dunia nyata, anak-anak digital native harus belajar untuk mengimbangi penggunaan teknologi dengan interaksi sosial yang positif. Jika tidak, mereka akan sulit beradaptasi dengan dunia luar dan menghadapi tantangan hidup.